Setelah
bertahun-tahun berada dalam lingkungan FE UNUD dan tetap berusaha
menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu komunitas seni yang terus
berkarya, di akhir tahun 2009 ini Teater e+ bekerjasama dengan the
Youth Corner BALI mempersembahkan acara bertajuk:
"Teater e+ Movie Screening 2003 - 2009"
Tujuan
dari diadakannya kegiatan Movie Screening ini adalah sebagai sebuah
ajang pemutaran karya beberapa film independent yang telah diproduksi
oleh Teater e+ bersama Tanda Seru Desain selama kurun waktu 2003 –
2009. Enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengeksiskan diri
sebagai sebuah komunitas seni di Bali, oleh karena itu Teater e+ ingin
mengenalkan diri kepada masyarakat Bali pada umumnya, dan para sineas
serta para pecinta film di Bali pada khususnya.
Acara ini akan diselenggarakan selama dua hari yaitu: 1.) Sabtu, tanggal 26 Desember '09 di Kampus Fakultas Ekonomi UNUD (Ruang E3) Jl. PB Sudirman Denpasar mulai pukul 6.30 PM - selesai
2.) Minggu, tanggal 27 Desember '09 di Griya Musik Irama Indah Jl. Diponegoro no. 114 Denpasar mulai pukul 6.30 PM - selesai
Dalam
movie screening ini, kurang lebih ada empat film independent produksi
tahun 2003 – 2008 hasil kolaborasi Teater e+ dengan Tanda Seru Desain
yang pernah berpartisipasi pada acara-acara festival film, antara lain:
1.) FORGOTTEN BOTTLE (2003) Best movie in Friday Freaks in Planet Holywood Bali 2005
Hidup
terasa sangat sial ketika mobil mogok akibat air radiator habis, dan
parahnya lagi kejadian ini terjadi ditengah hamparan padang pasir yang
kering dan tandus. Hal utama yang benar-benar dibutuhkan dalam kondisi
tersebut adalah: AIR! Sepasang pemuda yang yang mengalami hal ini
dipaksa memutar otak untuk menemukan air. Ironisnya, sebotol air yang
mereka cari ternyata berada tidak jauh dari sekitar badan mereka.
2.) FLAMBOYANT (2006) Berpartisipasi dalam Bali International Film Festival (Biffest) 2007
Inyet,
seorang jenius yang dipastikan cum laude, ternyata mengalami kisah
percintaan yang terancam kemelud. Inyet baru saja ditinggalkan oleh
kekasih hatinya, Cindy. Dan demi merebut kembali hati Cindy, Inyet
meminta bantuan sahabat karibnya; Joghy, seorang playboy kampus yang
sudah terbukti sakti dalam menaklukkan hati banyak wanita. Melalui
jurus-jurus ampuh khas Joghy, Inyet berusaha keras agar bisa kembali
kepelukan Cindy. Namun ditengah proses perjuangan tersebut, ternyata
hidup berkata beda. Inyet menemukan cinta sejatinya: Ratna! Yang
akhirnya mengubah hidup Inyet.
3.) GOMAKASHI (2006) Film
Terbaik, Film Favorit, Sutradara Terbaik, Pemeran Pria Terbaik, dan
Pemeran Pembantu Terbaik Festival Film Independent E20’ Bali 2007
Cerita
dalam film ini dimulai dari kilas balik 10 tahun sebelumnya, yaitu
tahun 1996, ketika seorang direktur sebuah taman bermain dibunuh
didepan mata anak lelakinya. Anak lelaki itu kemudian berubah menjadi
seorang psikopat yang membunuh setiap orang yang memasuki areal taman
bermain tersebut untuk membalas dendam kematian ayahnya. Selang 10
tahun, pada 2006, ada seorang pengangguran bernama Bima yang baru saja
diterima bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor yang berencana untuk
membangun kembali taman bermain tersebut. Namun ditengah proses
pemugaran taman bermain tersebut, Bima terjebak dalam ilusi pembalasan
dendam yang diciptakan oleh psikopat yang ada dalam areal taman bermain
itu.
4.) CURSED ( 2008 ) Editing Film Terbaik S.Cream with th film 3 Festival Film Independent, Yogyakarta 2009
Suatu
hari, dua orang remaja yang bernama Homo dan Korek sedang asyik bermain
air softgun. Lokasi yang mereka pilih untuk bermain air softgun saat
itu adalah beranda rumah Homo. Namun, bencana dimulai ketika secara
tidak sengaja jendela yang menghubungkan kamar dengan beranda terkunci,
dan hasilnya mereka terjebak di beranda tersebut. Setelah diusut,
ternyata peristiwa tersebut diduga kuat merupakan kutukan dari film
“CASTAWAY” karena Korek mentertawakan film itu ketika menontonnya, dan
Ia menduga bahwa tulah film “CASTAWAY” itulah yang menyebabkan mereka
terjebak. Namun, ditengah keputusaasaan mereka, ternyata datang seorang
penyelamat yang kehadirannya tidak pernah diduga.
free ticket entry - alias: GRATIS Selain itu, akan ada Performing Act berupa Musikalisasi Puisi oleh teman2 dari Teater e+ dan Acoustic Band dari SAVEREIGN
Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi: Udin; +6281 8055 888 74 Budi; +6281 7474 1966 Lindia theYC; +628180 5570 169 / +62361 857 4545
SATRIO WELANG AND PRANITA DEWI ON THE FASHION OF THE BEAT MAGAZINE
Sastra semakin bergeliat. Setelah ramai di panggung –
panggung pop, kini sastra merambah dunia fashion. Hal ini dibuktikan dalam
edisi terbaru The Beat Magazine ( edisi 248) yang mengangkat tema Kesusastraan dalam
rubrik Fashionnya. Menampilkan dua pegiat sastra Bali, Moch Satrio Welang dan
Pranita Dewi yang baru saja menerbitkan
antologi puisi mereka dalam buku puisi Keranda Emas, 21 Penulis Bali.
Pengambilan gambar
dilakukan di Sector Bar and Restaurant Sanur dengan bidikan fotographer handal The Beat Magazine, Anike Prabuanti yang
dibantu oleh Raditya Pandet dan Revan. Kedua penyair ini mempromosikan baju –
baju terbaru koleksi Paul Ropp dan Skin.
Koleksi dari Label Skin yang tampak casual, Moch Satrio
Welang menggunakansetelan baju Baju Shirt Bombay
Circle seharga Rp. 290.000 dan celana Black
Pant Cats seharga Rp. 330.000 sementara
Pranita menggunakan Dress Donnaberbandrol Rp. 450.000.
Dan untuk koleksi elegan ala bohemian, Paul Ropp, Satrio Welang menggunakan Cotton Tree s/s Men’s Shirtseharga Rp. 870.000 dan celanaWoven
Country Pantsseharga Rp. 770.000.
Sementara Pranita semakin cantik dan anggun menggunakan gaun coklat keemasan, Silk Chiffon Emb. Long Dressyang mencapai Rp. 4.220.000. Untuk tampilan
gambar silahkan klik http://www.beatmag.com/bali/248/shop1.htm
Moch Satrio Welang akan pentaskan naskah Magdalena dalam pagelaran
Poetry Slam yang diadakan oleh BUNUTE RESTAURANT AND BAR di UBUD ,JL.
Dewi Sita pada hari Sabtu 28 November 2009 mulai pukul 6 sore
Magdalena
yang merupakan karya monolog Satrio Welang yang pertama bercerita
tentang seorang Bintang Panggung bernama Magdalena, hidup dalam
gemerlapnya dunia hiburan namun sebenarnya menyimpan begitu banyak
kepahitan hidup.Magdalena adalah nama panggung, Nama yang begitu besar
dan bersinar. Nama yang dipuja - puja jutaan lelaki. Adalah Ni Wayan
Seruni, sesosok perempuan setengah baya yang menggadaikan
kebahagiaannya dengan menjadi sosok yang hiruk pikuk di tengah
pergulatan batinnya atas kebiadapan sang suami dan ketatnya adat yang
dirasa tidak banyak menguntungkan kaum perempuan.
Perayaan
ulang tahun Bunute Restaurant dan Bar ini juga menampilkan pembacaan
puisi dari Wayan Sunarta, Pranita Dewi, Putu Pande Setiawan, Komunitas
Sahaja, Musikalisasi Puisi dari Teater Angin dan Teater Antariksa.
Poetry Slam juga digelar terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung
dipersilahkan datang. Adapun yang bertindak sebagai dewan juri poetry
slam kali ini adalah Wayan Sunarta, Pranita Dewi, dan Pande Putu
Setiawan. Ulang tahun pertama Bunute Restaurant and Bar ini akan
dimulai oleh penampilan drums circle yang terbuka untuk publik. Acara
utamanay berupa kegiatan amal, yang digelar dalam upaya mendukung
komunitas Anak Alam dalam berkreatifitas dalam pengembangan mentalitas
dan pendidikan anak - anak di pedesaan. Selain tersedia kotak amal,
juga digelar pelelangan karya fotografi dari Fotografer ternama, Yanni
yang hasilnya nanti akan didonasikan untuk komunitas Anak Alam.
Adapun Susunan Acara sebagai berikut
SABTU 28 NOVEMBER 2009
04.pm – 06.pm Drums Circle
06.pm – 08 pm - Poetry Slam : Open to All Public
- Special Performances :
Wayan Sunarta
Pranita Dewi
Pande Putu Setiawan
Komunitas Sahaja
Teater Antariksa
Teater Angin
Komunitas Anak Alam Presentation
Pelalangan Fotography oleh fotografer YANI
08.00 – 08.20 : Monolog Moch Satrio Welang
08.20 - end : The Big O Band Show
Poetry
Slam adalah kompetisi di mana penyair membaca atau membaca karya asli
(atau karya orang lain). Pertunjukan ini kemudian dinilai berdasarkan
skala numerik sebelumnya dipilih oleh anggota audience.na membanting
puisi, anggota penonton dipilih oleh seorang MC atau host untuk
bertindak sebagai hakim untuk aktivitas tersebut. Setelah setiap
penyair melakukan, setiap juri memberi penghargaan skor untuk puisi.
Skor umumnya berkisar antara nol dan sepuluh. Skor terendah dan
tertinggi yang akan diberikan. Sebelum kompetisi dimulai, tuan rumah
akan sering membawa sebuah "prosesi," yang akan menentukan para hakim
untuk memberikan penilaian
Info lebih lanjut hubungi
Moch Satrio Welang
081 916 384 162
atau
Bunute Restaurant and Bar
Jl. Dewi Sita - Ubud Ph. 972 177
www.bunute.com
Apresiasi Seni Lawak Bali Dalam Radar Bali Art Award 2010
BALI
terkenal sebagai gudangnya seni budaya, bahkan pulau Bali sendiri
disebut sebagai surganya turistik. Memang, beragam seni budaya tumbuh
dan berkembang selama ini. Namun, di balik semua itu, masih ada saja
seni pertunjukan yang apresiasinya masih termasuk sangat minim. Bahkan,
terkesan belum tersentuh secara baik dan layak, di tengah arus budaya
global kekinian. Meskipun demikian, para pegiatnya seakan tak
pernah merasa putus-asa untuk tetap berkarya dan bertahan secara
mandiri. Benarkah ?
Adalah seni pertunjukan pelawak Bali, yang
identik disebut seni parodi atau bebanyolan. Nah, bertitik tolak dari
spirit dan semangat berjiwa besar dari para pegiatnya itu, Radar Bali
(Jawa Pos Group) bersama Tjanangsari Production bekerjasama dengan
Dinas Kebudayan Bali, dan juga Dinas Pendidikan Bali bakal menggelar
Radar Bali Art Award 2010, apresiasi seni pelawak Bali. Ajang seni
budaya ini akan bergulir mulai awal tahun depan secara road show ke
seluruh kabupaten/kota di Bali. Dengan melibatkan pelajar, SMA/SMK dan
Mahasiswa serta masyarakat umum, terutamanya pencinta seni pertunjukan
lawak Bali. Pendaftaran dibuka mulai hari ini hingga akhir tahun
2009 ini, bertempat di Dinas Kebudayaan di setiap kabupaten/kota dan
sekretariat Panitia Radar Bali Art Award 2010, Jalan HOS Cokroaminoto
Gg. Katalia 26 Ubung Denpasar-Bali, 0361-417153-56, Fax.
0361-417157-58. Biaya pendaftaran peserta (tim) katagori Pelajar usia
16-20 tahun (A) Rp 20.000,- dan katagori Umum usia 21-30 tahun (B) Rp
50.000,-
Diharapkan, melalui ajang seni budaya ini nantinya mampu
menggali potensi seni budaya utamanya seni peran, lawakan tradisional,
seni bebanyolan atau bebondresan Bali di kalangan remaja. Selain itu,
sebagai ruang apresiasi seni dalam membangun mentalitas kreatif
generasi muda sebagai bentuk kepedulian dalam mengembangkan dan
melestarikan seni budaya Bali ke depan, serta sekaligus sebagai budaya
tanding dari mentalitas konsumtif dan hedonis masyarakat secara
universal.
Nyoman Wija, ketua umum panitia mengatakan, ajang gelar
seni pelawak Bali ini digelar sejatinya atas desakan dan harapan dari
para pegiat seni pelawak Bali yang merasa perlu untuk membangun citraan
atau image berbeda, sehingga gelar seni pelawak Bali bisa sejajar
dengan seni pertunjukan Bali lainnya. Hal ini sempat dilontarkan
pelawak Bali, Wayan Suanda alias Cedil, yang merasa sudah saatnya
Pelawak Bali untuk bergeming sebagaimana dengan seni lainnya yang
selama ini sudah sempat di angkat Radar Bali dalam beragam even
seninya. “Radar Bali selama ini cukup rajin membuka ruang apresiasi
bagi seniman Bali, kalau boleh saya berharap pelawak Bali juga di
apresiasi agar mampu bersanding dengan seni pertunjukan lainnya,”
harapnya.
Dan, atas dasar itulah, Radar Bali Art Award (RBAW) 2010
ini digelar. “Kita hanya mencoba untuk memberikan ruang yang berimbang
bagi seniman Bali yang kreatif dalam mengambangkan potensi daya
inovatifnya demi pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali ke
depan,” ujar Wija, yang diamini, Manik, panitia harian acara ini.
Lebih
jauh Manik menambahkan untuk dewan juri nantinya pihaknya akan
melibatkan sejumlah pakar di bidangnya, yang akan dibagi dalam dua
tahap, yakni tahap penyisihan, dan tahap semi final dengan grand final.
“Hal ini dalam upaya mengantisipasi seminimal mungkin hal-hal yang
tidak di inginkan alias kongkalikong antara peserta dengan dewan juri,”
ujarnya.
Perlu diketahui ajang apresiasi seni budaya ini merupakan
kelanjutan dari sejumlah even apresiasi seni yang pernah digelar Radar
Bali (Jawa Pos Group) dengan beberapa pihak baik pemerintah maupun
swasta secara mandiri selama ini, diantaranya: apresiasi kesenirupaan:
Radar Bali Art Award 2008, apresiasi seni sastra: Radar Bali Literary
Award 2009, dan gelar seni musik Bali: Radar Bali Music Award 2009.
Pada dasarnya beragam pagelaran seni budaya tersebut sebagai bentuk
kepedulian dalam rangka pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali
sebagai daya tanding bangsa di tengah arus budaya global, kekinian.
(ija)
MOCH SATRIO WELANG SIAP LUNCURKAN DUA BUKU DI 2010
Setelah sukses dengan kumpulan
buku puisi Keranda Emas ( Youth Corner ), kali ini Moch Satrio Welang berencana
menerbitkan karya – karyanya melalui penerbit Sastra Welang Publisher dalam dua
buku yang ditargetkan luncur di tahun 2010 mendatang.
Buku yang pertama adalah Kumpulan
Cerpen Sastrawan Bali Lintas Generasi yang kini sedang dalam tahap pengumpulan
materi, tata letak dan tentu saja penggalian dana. Beberapa nama sastrawan besar Bali berhasil digandengnya diantaranya
Putu Oka Sukanta, Abu Bakar, Frans Nadjira, Sunaryono Basuki, Oka Rusmini, Mas
Ruscita Dewi, Putu Fajar Arcana, Gus Martin, Jiwa Atmaja, Putu Satria Kusuma, Made
Adnyana Ole, Phalayasa, Wayan Sunarta,
Nanoq da Kansas, Pranita Dewi, Sonia Piscayanti, Jauhar Mubaraq, Arik Sariadi, Purnama,
Sudiani, Putu Rastiti, Frischa Aswarini, Saraswita Laksmi, dan Dadi Reza
Pujiadi. Buku yang memuat cerpen para sastrawan Bali ini merupakan sebuah wujud
pendokumentasian karya sastra yang menjadi penting sebagai bahan perbandingan
studi kesusastraan modern Bali ke depannya. Tema – tema yang diangkat pun beragam,
rupanya Satrio Welang sengaja ingin menampilkan pelangi dalam buku yang dirancang
setebal 200 halaman ini. Kendati masih dalam perdebatan meja penerbit, namun kandidat
judul yang paling kuat saat ini adalah ‘Moksa.’
Buku yang dirancang menjadi referensi kesusastraan modern ini diharapkan dapat
bermanfaat dalam memberi warna dalam dunia kesusastraan di Bali, khususnya
prosa. “ Impian saya sejak kecil, memiliki buku kumpulan cerpen para sastrawan
Bali dan membagikannya pada adik - adik kita yang masih duduk di bangku SD
sebagai bahan bacaan mereka. Semoga bermanfaat! ” harapnya.
Buku lain yang rencananya juga
akan diterbitkan oleh Sastra Welang Publisher di tahun 2010 adalah buku
kumpulan Cerpen Metropop, ‘Bali Romance.’ Kali ini Satrio Welang coba berkarya lintas
genre, yakni genre metropop. Buku chickleet ini akan memuat karya – karya metropop
yang mengangkat problematika yang ada di kawasan pulau dewata Bali, disamping tema
persahabatan, ketulusan dan tentunya percintaan. Adapun sayembara mencari para
penulis muda masih terus dilakukan oleh Satrio Welang di jejaring situs sosial
hingga saat ini. Namun beberapa nama yang berhasil digaet adalah Audrey Lamou, Tia
Daniel, Dedi Kristian, Liza Irman, Devi Caroline, Joan Valentina, Nadya Nonie, Shinta Thandari,
Ramadoni, Niswa Andromeda , Karenina Tyas, Felisia Dewi dan masih membuka
kesempatan bagi para penulis muda yang lain yang ingin bergabung. Ketika
ditanya mengapa mengangkat Bali sebagai latar cerita dan muara probematika
dalam kumpulan cerpen ini, dia menjawab bahwa masih banyak hal yang dapat dijadikan
inspirasi dalam menulis, salah satunya Bali. ” Bali selalu kaya akan ide – ide segar,
saya bosan dengan cerita yang didominasi latar Jakarta. Kami hidup di Bali dan
waktunya kami bercerita ” tandasnya.
Permohonan Bantuan Penerjemahaan Dalam Bahasa Daerah
CERITANYA KOMUNITAS ASLI ORANG INDONESIA Jln. Nusa Indah Gg: 9 No: 4 Sumerta - Denpasar timur 80235. Bali – Indonesia e-mail: ck_ceritanyakomunitas@yahoo.co.id atau radenpewe@yahoo.com Phone: (0361) 9993677, 08170006922
Denpasar, 28 Oktober 2009 No : /BOOK3/2009/CK Lamp : 1 Lembar Puisi Hal : Permohonan Bantuan Penerjemahaan Dalam Bahasa Daerah
Kepada_Yth: Saudara setanah air Bangsa Indonesia
Di tempat
Dengan hormat
Sehubungan dengan niat menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa dari
segi negatif eraglobalisasi yang akan merugikan bangsa, kami sebagai
bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia mencoba mengambil sikap yang
tegas dan dewasa dengan ikut serta menjaga dan melestarikan dari hal
kecil yang kami bisa. “KATAKANLAH SAYA SUKA SASTRA” Dari sebuah
teks kecil ini kami bermaksud membentuk sebuah buku kumpulan puisi
karya saudara Raden Prakiyul Wahono Noto Susanto yang nantinya satu
dari kumpulan puisi-puisinya yang berjudul Katakanlah Saya Suka Sastra
diterjemahkan dalam berbagai macam bahasa daerah yang begitu kaya
dimiliki bangsa kita. Dari hal kecil yang kami bisa ini
mudah-mudahan nantinya dapat bermanfaat untuk menjaga dan melestarikan
keanekaragaman kekayaan budaya bangsa, mematenkan dan mempromosikan
agar tidak terjadi lagi kesalahaan-kesalahaan yang memalukan atas
pengakuan kebudayaan bangsa Indonesia oleh bangsa-bangsa lain. Oleh
karena itu kami mohon kesediaan bantuan Saudara/i Bapak/Ibu untuk
membantu menerjemahkan sebuah puisi ini kedalam berbagai macam bahasa
daerah yang berada didaerah lingkungan Provinsi yang Saudara/i
Bapak/Ibu tinggali saat ini. Demikian permohonaan ini kami buat,
besar harapan kami dapat dikabulkan. Atas perhatian dan kerjasamanya
kami ucapkan terima kasih.
CERITANYA KOMUNITAS ASLI ORANG INDONESIA
NB : Dengan berharap rasa hormat kami menunggu balasannya, agar segera masuk dalam tahap selanjutnya. Kami akan memberikan 1 buah buku yang akan kami terbitkan, atas rasa terima kasih kami. (tolong lampirkan alamat lengkap saudara/I Bapak/Ibu)
Bahasa : Nama Daerah : Provinsi : Transleter :
“KATAKANLAH SAYA SUKA SASTRA”
Saya Suka sastra
Saya suka sastra merangkai kata Membuat orang tertawa, Saya suka sastra mengumpulkan kata Menceritakan ceritra, Saya suka sastra menulis kata Mengabadikan era, Saya suka sastra mencari kata Menghasilkan makna, Saya suka sastra menciptakan kata Menghujankan air mata, Saya suka sastra juga karena sebab air mata Dan saya suka sastra hingga memikirkan beberapa kata Saya benci sastra.
Andai dunia ini semua orang cinta sastra Mungkin negri ini disebut negri kata Bukan karena banyak bicara Karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.
Dengan kata-kata aku berdoa Dengan kata-kata pula mereka berbicara
MOCH SATRIO WELANG WITH SAM CUTLER , TOUR MANAGER OF ROLLING STONES
Moch Satrio Welang hosted in conversation with Sam Curtler on the main program of Ubud Writers and Readers Festival 2009 in Indus Restaurant October 11, 2009 with the moderator by Annie Gastin, an Australia Jazz Singer. Sam Cutler was Tour Manager for the Rolling Stones on their infamous American Tour in 1969. He then went on to work with the legendary Grateful Dead. He also worked with Janis Joplin, Jimi Hendrix, The Band, Pink Floyd and Eric Clapton. He has lived "the ultimate rock and roll dream" survived the experience and written an exhilarating, access-all-areas rock memoir from the point of view of someone who has seen – and done – it all. On the panel discussion, the audience also asked questions related to his book, You Cant Always Get What You Want. It's Cutler's voice that we hear introducing the Rolling Stones at the beginning of the Maysles brothers' brilliant rockumentary Gimme Shelter. Cutler's 12-month tour of duty in the service of the greatest rock'n'roll band in the world took him on a strange trip, through riot police, people of questionable morals, groupies, dealers, hangers-on, the FBI and the CIA, film makers and aggressive management - all on about three hours sleep a night. "I've read so many books about the 1960s and the Stones," says Cutler with discernible weariness. "So many of them were shit. So I just tried to write something that people would understand how it really was - a real, genuine, no bullshit feeling."
BLABAR ON SEARCH, LOMBA BACA PUISI SMP SE-BALI 2009
Teater Blabar menggelar Lomba Baca Puisi tingkat SMP seBali yang diadakan di SMUN 4 Denpasar 2 Oktober 2009 pukul 10.00 wita, dalam rangkaian program apresiasi sastra terhadap murid – murid SMP se Bali, utamanya pembacaan Puisi. Tampil sebagai dewan juri yakni Sastrawan Senior Tan Liou Ie , Sastrawan Muda Moch Satrio Welang dan juga salah seorang guru pengajar sastra dan bahasa indonesia SMUN 4, Kartika Dewi. Jumlah peserta yang mengikuti perlombaan ini lumayan banyak hingga mencapai 64 orang. Ketua panitia , Ratna Aristiya menerangkan ," Melalui program teater Blabar ini, kami ingin menunjukkan bahwa SMUN 4 Denpasar juga berupaya mendukung dunia sastra di Bali terutama pencarian bakat – bakat muda yang nantinya pemenang selain mendapatkan hadiah uang tunai, piala dan sertifikat, juga akan mendapatkan sebuah buku puisi Keranda Emas , Antologi 21 Penulis Bali ." Moch Satrio Welang sebagai salah seorang juri menyampaikan , " Seandainya sejak dini setiap orang sudah mengenal sastra, ini akan baik untuk kepribadian mereka kedepannya, karena sastra memperhalus rasa dan kepekaan kita pada lingkungan juga kehidupan ini." Selain dicari 3 juara, dalam lomba ini juga akan ditentukan 3 pemenang dengan kategori berbakat.
Contact Person : Gloria : 08573700 6878
SMUN 4 Denpasar JL.Gunung Rinjani, Denpasar, Bali - Indonesia Telp./Fax: (0361) 481 216, 485 363.
MOCH SATRIO WELANG PENTASKAN CERPEN ‘RAHIM’ KARYA COK SAWITRI
Sebuah cerpen berjudul Rahim karya sastrawan Bali, Cok
Sawitri, akan dipentaskan oleh Moch Satrio Welang dalam gelaran Fringe Event
Ubud Writers and Readers Festival oleh Komunitas Sahaja pada 27 September 2009
pukul 20.30 wita di Toko Buku Toga Mas - Museum Sidik Jari Jl. Hayam Wuruk
Denpasar. Cerpen ini dipilih Moch Satrio Welang untuk dipentaskan dalam bentuk
fragmen mengingat pesan mendalam yang tersirat mengenai perjuangan perempuan
bernama Nagari usia 30 tahun yang menjadi korban penculikan, akibatkan
pengangkatan Rahim yang dilakukannya. Pemerintah khawatir Rahim Nagari yang
diangkat memberikan provokasi terhadap ribuan wanita lain untuk melakukan hal
yang sama dan terputusnya generasi tak terelakkan. Saksikan Bagaimana kesaksian
Nagari dalam menghadapi kaki kaki besi pemerintah yang ingin menghentikan ruang
geraknya, mungkin juga nafasnya…
NO STRESS, JAWARA KERANDA EMAS MUSIC POETRY AWARD 2009
Terjawab sudah siapa yang berhak menjadi jawara dalam gelaran Festival Band Buku Puisi Keranda Emas Kuta Karnival 22 -23 September 2009. Mereka adalah tiga musisi muda yang tampil memukau secara akustik, mereka adalah No Stress. No Stress terbentuk oleh Dewan juri yang terdiri dari Moch Satrio Welang, Ijum Greenville dan Dadi Reza Pujiadi sepakat bahwa band jebolan Yayasan One Dollar For Music ini mampu unggul dalam persaingan mengintrepetasi puisi Keranda Emas karya Moch Satrio Welang dalam sebuah penampilan musik di panggung kuta Karnival. Salah seorang dewan juri, Ijum Greenville menyampaikan, "Mereka mampu membuat sebuah tampilan aransement yang kaya dan begitu dinamis, mereka betul – betul menguasai materi." Hal senada juga disampaikan oleh Dadi Reza Pujiadi, " No Stress tampil begitu santai tapi kualitas dan keseriusan mereka dalam mengintrepetasi puisi tersebut begitu terasa. Mereka tampil sangat prima." No Stress yang digawangi oleh Kupit, Cok dan Angga ini terbentuk ditahun 2007, mereka dipertemukan akan sebuah keinginan untuk membentuk band yang akustik saja, karena kebosanan dengan band – band elektrik. Penampilan – penampilan mereka pun biasa untuk memeriahkan acara – acara di Hotel termasuk seminar dan pernikahan. Kini mereka juga aktif tampil dalam acara – acara sosial dan telah menciptakan dua belas lagu yang syarat dengan kritik – kritik sosial di masyarakat hingga akhirnya berhasil meraih juara pertama Keranda Emas Music Poetry Award 2009. Festival yang digelar selama 2 hari dalam rangkaian Kuta Karnival ini memiliki konsep yang sungguh unik, yakni memadukan seni sastra dan musik format band, dimana setiap peserta yang tampil membawakan tiga buah lagu yang di ambil dari puisi wajib berjudul Keranda Emas karya Moch Satrio Welang, puisi pilihan dari 21 penulis di Buku Keranda Emas, dan satu lagu karya band peserta sebagai upaya untuk menumbuhkan kreatifitas dan kepercayaan diri akan karya - karya sendiri. Tercatat 22 band yang mengikuti festival tersebut dari bermacam aliran musik, berikut ini daftar pemenangnya
Juara 1 : No Stress ( Akustik ) Juara 2 : D'Explode ( Pop Rock ) Juara 3 : Oblivious Insanity (Harmonic Metal Core )
Juara Harapan 1: The Rolic (Alternatif Melodic ) Juara Harapan 2 : 2 Sisi (Rock Alternative ) Juara Harapan 3 : Judicial Review (Nu Metal/ Nu Skull )
Sepuluh Besar : Away From the Sun ( Melodicemoattack ) Sepuluh Besar : Hanamura (Emo ) Sepuluh Besar : Ice Cream Attack (Pop Techno ) Sepuluh Besar : Tower of Snake (Hardcore Melodic)
BALI ART ETALASE merupakan jaringan seni yang memuat kabar terkini dunia seni di Bali, termasuk dunia seni teater, tari, kesusastraan, lukis, musik dan film. Dukung dengan mengirimkan berita seputar seni ke email : baliartetalase@yahoo.com
BALI ART ETALASE is creatively created as the Art Network for any current news and information of theater show, dance, painting, literature, music and movie event in Bali.Support this network by dropping any news on those circuit, to baliartetalase@yahoo.com