MAMA, I AM SORRY! NABI BARU TELAH DATANG! BY KELOMPOK 108
Datang dan saksikan Pertunjukan Teater yang digelar oleh kelompok Satu
Kosong Delapan, Berjudul Mama, I am Sorry yang ditulis dan disutradarai
oleh Giri Ratomo. Tanggal Pertunjukan 4 – 5 September 2009 Di open
stage depan gedung Kriya Art Center Denpasar. Pukul 07.00 malam
Lihat
Bagaimana Moch Satrio Welang bergelut dalam kebimbangannya memasukkan roh Hamlet, sorang Pangeran Denmark yang ayahnya dibunuh,
ditambah pertarungan batinnya akan gelombang pertentangan Fenomena
Facebook Exsistensialisnya, yakni fenomena Moch Satrio Welang.
Bagaimana
pula kegelisahan sang penyair cantik Pranita Dewi bergelut dalam dunia
Seks Maya, sebuah pembuktian akan keindahan tubuh wanita yang
diciptakan Tuhan dengan Payudara ranum selaksa buah apel .
Juga
Bagaimana perang Batin seorang lelaki ( Yoseph Maulana) yang
menghabiskan berhari-hari di depan Komputer untuk mempeributkan
Filsafat Bulan, antara Perawan atau Janda.
Lalu bagaimana pula
para manusia masa kini ( Anna Ulfa dan Inne Meryanti) mengcounter
narsisme akan aktualisasi diri, dan Bagaimana ekspresi terkejut dan
maha bahagia tatkala Sang Nabi Baru, Sang Pembawa Pesan, datang! Dia
telah datang, Yang Mulia Google ( Saichu Anwar) yang kata – katanya bak
Sabda. Altar musti di siapkan!
Mama, I’m Sorry
Pemeran : Saichu Anwar
Yosep “nCep” Maulana
Moch Satrio Welang
Pranita Dewi
Anna Ulfa
Inne Meriyanti
Pemusik : Bintang Riyadi (Tilbringa Somaren)
Oris Orista (Tilbringa Somaren)
Qting Zulham (Tilbringa Somaren)
Devi Larasati (Layanglayang)
Renald Renaldi (Layanglayang)
Panggung : Didit Maniasa Sonapasma
Penata Cahaya : Curex
Dokumentasi : Jauhar Mubarok (Rumah Dokumen)
Stage Manager : Dedi Dwiyanto
Produser : Kurniawan “Curex” Adiputra
Sutradara : Giri Ratomo
CATATAN SUTRADARA
“Teater; I’m Sorry”
Saya
berkali-kali ditanya oleh diri saya sendiri: mungkin ngga sih? Saya
jawab: Apa sih yang ngga mungkin. Tapi ternyata tak sesederhana itu.
Sebab?
Realitanya, membikin sebuah pertunjukan teater (di Denpasar)
makin hari makin megap-megap. Susah napas. Makin sedikit orang-orang
yang demen berproses, latihan produksi atau mau mentas. Barangkali anda
menyangkal. Lalu anda bilang: tuh nyatanya anak-anak SMA giat berlatih!
Aw
aw aw tentu saya akan bilang: Maap, saya lagi ngomongin orang-orang
yang sudah berumur. Orang-orang yang dianggap anak-anak SMA sebagai
penggiat teater.
Seniman teater! Saya akan terpingkal-pingkal.
Kenapa? Sebab realitanya di Denpasar sampai hari ini yang konsisten di
dunia panggung ada atau tidak?
Coba lah tengok, ada berapa banyak pementasan teater selama satu tahun terakhir?
Bila,
teater remaja lebih bergairah dibandingkan dengan teater umum adalah
sesuatu yang pantas disyukuri. Setidaknya masih ada pertunjukan teater
dari para remaja. Dan setidaknya – selama pihak sekolah belum
membubarkan teater sekolahnya – tentu mereka masih akan terus berpentas.
Yang
menjadi pertanyaan berikutnya: para alumnus teater remaja Denpasar
sekarang nyungsep dimana? Adakah yang bisa melacak para alumnus teater
remaja era 90’an atau 2000’an yang akhirnya menjadi penggiat teater di
Denpasar? Yang kemudian konsisten membangun komunitas teater?
Tolong
bantu saya mencarinya. Bila belum ada, tolong kabarkan kepada dia bahwa
teater Denpasar rindu proses latihan untuk produksi pementasan.
Kabarkan juga bila panggung teater Denpasar sudah kangen dipeluk dan
dicium.
Lalu muncul pertanyaan dari salah satu tokoh seni
pertunjukan Indonesia yang tinggal di Jakarta: Trus, kalo sudah
berteater, mau ngapaiiin?
“Mama; I’m Sorry”
Aku
berhari-hari sibuk bercinta dengan internet. Sebuah percintaan yang
paling memabukkan akhir-akhir ini. Aku membiarkan tubuhku membeku di
private room, menjelajahi semesta raya. Aku merasa lebih dekat saat
menyapa selingkuhan-selingkuhanku lewat bahasa chatt. Aku lebih merasa
di anggap “ada” saat aku bisa menunjukkan diri lewat statusku di
facebook, twitter atau friendster.
Ya! Bahkan, aku menemukan agamaku. Aku menemukan nabi baruku. Aku berjumpa dengan tuhanku.
“Sahabat; I’m Sorry”
Bahwa
pertunjukan ini mesti tetap terjadi adalah sebuah kesepakatan. Mesti
pentas! Saya berharap bahwa ini adalah kesepakatan karena ketulusan.
Dan saya melihat betapa tulusnya para sahabat yang terlibat dalam
produksi ini. Saya ucapkan terima kasih yang tulus untuk para aktor
(Saichu Anwar, nCep Maulana, Satrio Welang, Anna Ulfa, Inne Meriyanti,
Eka Pranita Dewi) yang selalu meluangkan waktu di sela-sela kepadatan
bekerja mencari rejeki, pak stage manager (Dedi Dwiyanto) dan pak
produser (Kurniawan Adiputra) yang selalu menyempatkan hadir
menyaksikan dan mengikuti proses kreatif “Mama, I’m Sorry”. Juga terima
kasih saya kepada para supporter yang selalu hadir saat latihan; Devi
Larasati, Dion, Laura, Dwitra J Ariana, Andika Ananda serta
sahabat-sahabat yang belum saya tuliskan di sini.
Saya ucapkan
terimakasih kepada Taman Budaya Bali yang telah mengijinkan penggunaan
panggung halaman Gedung Kriya sebagai tempat pentas, kepada Satu Garis
Community untuk support stage, Rumah Dokumen untuk dokumentasi dan
sahabat-sahabat jurnalis.
Mohon maaf yang tulus bila banyak hal yang kurang berkenan.
Denpasar, 010909
drhgiriratomo@gmail.com
Kelompok SatuKosongDelapan
Adalah
sebuah kelompok independent yang melakukan studi di wilayah teater,
penulisan dan lukis. Embrio kelompok ini digulirkan tahun 2002 dengan
nama SatuKanTong Komunitas. Kemudian Giri Ratomo, Dedi Dwiyanto dan
Kurniawan Adiputra mengubahnya menjadi Kelompok Satu Kosong Delapan
pada 26 Oktober 2003.
Nomor Pementasan:
Monolog : Stt Diam! (2003)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain : Giri Ratomo
Aula Santo Yoseph Denpasar
Death Of A Salesman (2004)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain : Kurniawan “Curex” Adiputra
Ratna Aryanti
Nur Setyanto
Fafan Fauzan Nadjir
Moch Satrio Welang
I Wayan Surana
Muda Wijaya
Isnah Nur Bintari
Mireki Jasmine Okubo
Anjar Tunjung Sari
Kurnia Dwi Adi Sasongko
Dalam ‘ Panggung Teater Realis Indonesia’ Taman Ismail Marzuki Jakarta
Monolog: Wawancara Ecin (2005)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain : Isnah Nur Bintari
- Aula DEPAG Jembrana
- Gedung Nari Graha Denpasar
Monolog: Amuk (2006)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain Fafan Nadjir
Taman Budaya Denpasar
Monolog: Penislilin (2006)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain Moch Satrio Welang
Aula Santo Yoseph Denpasar
Waktu Antara Kau dan Aku (2007)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain :
Rika Puspa Sari
Andika Ananda
Moch Satrio Welang
Haris Lawera
Didit Maniasa Sonapasma
Febrian Niko Widjonarko
Oriental Theatre Kuta
Posted at 11:51 pm by satrio_welang