Aug 31, 2009
MAMA, I AM SORRY! NABI BARU TELAH DATANG! BY KELOMPOK 108

Datang dan saksikan Pertunjukan Teater yang digelar oleh kelompok Satu Kosong Delapan, Berjudul Mama, I am Sorry yang ditulis dan disutradarai oleh Giri Ratomo. Tanggal Pertunjukan 4 – 5 September 2009 Di open stage depan gedung Kriya Art Center Denpasar. Pukul 07.00 malam

Lihat Bagaimana Moch Satrio Welang bergelut dalam kebimbangannya memasukkan roh Hamlet, sorang Pangeran Denmark yang ayahnya dibunuh, ditambah pertarungan batinnya akan gelombang pertentangan Fenomena Facebook Exsistensialisnya, yakni fenomena Moch Satrio Welang.

Bagaimana pula kegelisahan sang penyair cantik Pranita Dewi bergelut dalam dunia Seks Maya, sebuah pembuktian akan keindahan tubuh wanita yang diciptakan Tuhan dengan Payudara ranum selaksa buah apel .

Juga Bagaimana perang Batin seorang lelaki ( Yoseph Maulana) yang menghabiskan berhari-hari di depan Komputer untuk mempeributkan Filsafat Bulan, antara Perawan atau Janda.

Lalu bagaimana pula para manusia masa kini ( Anna Ulfa dan Inne Meryanti) mengcounter narsisme akan aktualisasi diri, dan Bagaimana ekspresi terkejut dan maha bahagia tatkala Sang Nabi Baru, Sang Pembawa Pesan, datang! Dia telah datang, Yang Mulia Google ( Saichu Anwar) yang kata – katanya bak Sabda. Altar musti di siapkan!

Mama, I’m Sorry
Pemeran : Saichu Anwar
Yosep “nCep” Maulana
Moch Satrio Welang
Pranita Dewi
Anna Ulfa
Inne Meriyanti

Pemusik : Bintang Riyadi (Tilbringa Somaren)
Oris Orista (Tilbringa Somaren)
Qting Zulham (Tilbringa Somaren)
Devi Larasati (Layanglayang)
Renald Renaldi (Layanglayang)
Panggung : Didit Maniasa Sonapasma
Penata Cahaya : Curex
Dokumentasi : Jauhar Mubarok (Rumah Dokumen)
Stage Manager : Dedi Dwiyanto
Produser : Kurniawan “Curex” Adiputra
Sutradara : Giri Ratomo

CATATAN SUTRADARA

“Teater; I’m Sorry”

Saya berkali-kali ditanya oleh diri saya sendiri: mungkin ngga sih? Saya jawab: Apa sih yang ngga mungkin. Tapi ternyata tak sesederhana itu. Sebab?

Realitanya, membikin sebuah pertunjukan teater (di Denpasar) makin hari makin megap-megap. Susah napas. Makin sedikit orang-orang yang demen berproses, latihan produksi atau mau mentas. Barangkali anda menyangkal. Lalu anda bilang: tuh nyatanya anak-anak SMA giat berlatih!

Aw aw aw tentu saya akan bilang: Maap, saya lagi ngomongin orang-orang yang sudah berumur. Orang-orang yang dianggap anak-anak SMA sebagai penggiat teater.

Seniman teater! Saya akan terpingkal-pingkal. Kenapa? Sebab realitanya di Denpasar sampai hari ini yang konsisten di dunia panggung ada atau tidak?
Coba lah tengok, ada berapa banyak pementasan teater selama satu tahun terakhir?

Bila, teater remaja lebih bergairah dibandingkan dengan teater umum adalah sesuatu yang pantas disyukuri. Setidaknya masih ada pertunjukan teater dari para remaja. Dan setidaknya – selama pihak sekolah belum membubarkan teater sekolahnya – tentu mereka masih akan terus berpentas.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya: para alumnus teater remaja Denpasar sekarang nyungsep dimana? Adakah yang bisa melacak para alumnus teater remaja era 90’an atau 2000’an yang akhirnya menjadi penggiat teater di Denpasar? Yang kemudian konsisten membangun komunitas teater?

Tolong bantu saya mencarinya. Bila belum ada, tolong kabarkan kepada dia bahwa teater Denpasar rindu proses latihan untuk produksi pementasan. Kabarkan juga bila panggung teater Denpasar sudah kangen dipeluk dan dicium.

Lalu muncul pertanyaan dari salah satu tokoh seni pertunjukan Indonesia yang tinggal di Jakarta: Trus, kalo sudah berteater, mau ngapaiiin?

“Mama; I’m Sorry”
Aku berhari-hari sibuk bercinta dengan internet. Sebuah percintaan yang paling memabukkan akhir-akhir ini. Aku membiarkan tubuhku membeku di private room, menjelajahi semesta raya. Aku merasa lebih dekat saat menyapa selingkuhan-selingkuhanku lewat bahasa chatt. Aku lebih merasa di anggap “ada” saat aku bisa menunjukkan diri lewat statusku di facebook, twitter atau friendster.
Ya! Bahkan, aku menemukan agamaku. Aku menemukan nabi baruku. Aku berjumpa dengan tuhanku.

“Sahabat; I’m Sorry”
Bahwa pertunjukan ini mesti tetap terjadi adalah sebuah kesepakatan. Mesti pentas! Saya berharap bahwa ini adalah kesepakatan karena ketulusan. Dan saya melihat betapa tulusnya para sahabat yang terlibat dalam produksi ini. Saya ucapkan terima kasih yang tulus untuk para aktor (Saichu Anwar, nCep Maulana, Satrio Welang, Anna Ulfa, Inne Meriyanti, Eka Pranita Dewi) yang selalu meluangkan waktu di sela-sela kepadatan bekerja mencari rejeki, pak stage manager (Dedi Dwiyanto) dan pak produser (Kurniawan Adiputra) yang selalu menyempatkan hadir menyaksikan dan mengikuti proses kreatif “Mama, I’m Sorry”. Juga terima kasih saya kepada para supporter yang selalu hadir saat latihan; Devi Larasati, Dion, Laura, Dwitra J Ariana, Andika Ananda serta sahabat-sahabat yang belum saya tuliskan di sini.
Saya ucapkan terimakasih kepada Taman Budaya Bali yang telah mengijinkan penggunaan panggung halaman Gedung Kriya sebagai tempat pentas, kepada Satu Garis Community untuk support stage, Rumah Dokumen untuk dokumentasi dan sahabat-sahabat jurnalis.
Mohon maaf yang tulus bila banyak hal yang kurang berkenan.

Denpasar, 010909
drhgiriratomo@gmail.com


Kelompok SatuKosongDelapan
Adalah sebuah kelompok independent yang melakukan studi di wilayah teater, penulisan dan lukis. Embrio kelompok ini digulirkan tahun 2002 dengan nama SatuKanTong Komunitas. Kemudian Giri Ratomo, Dedi Dwiyanto dan Kurniawan Adiputra mengubahnya menjadi Kelompok Satu Kosong Delapan pada 26 Oktober 2003.

Nomor Pementasan:
Monolog : Stt Diam! (2003)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain : Giri Ratomo
Aula Santo Yoseph Denpasar

Death Of A Salesman (2004)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain : Kurniawan “Curex” Adiputra
Ratna Aryanti
Nur Setyanto
Fafan Fauzan Nadjir
Moch Satrio Welang
I Wayan Surana
Muda Wijaya
Isnah Nur Bintari
Mireki Jasmine Okubo
Anjar Tunjung Sari
Kurnia Dwi Adi Sasongko
Dalam ‘ Panggung Teater Realis Indonesia’ Taman Ismail Marzuki Jakarta

Monolog: Wawancara Ecin (2005)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain : Isnah Nur Bintari
- Aula DEPAG Jembrana
- Gedung Nari Graha Denpasar

Monolog: Amuk (2006)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain Fafan Nadjir
Taman Budaya Denpasar

Monolog: Penislilin (2006)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain Moch Satrio Welang
Aula Santo Yoseph Denpasar

Waktu Antara Kau dan Aku (2007)
Sutradara : Giri Ratomo
Pemain :
Rika Puspa Sari
Andika Ananda
Moch Satrio Welang
Haris Lawera
Didit Maniasa Sonapasma
Febrian Niko Widjonarko
Oriental Theatre Kuta

Posted at 11:51 pm by satrio_welang

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry

BALI ART ETALASE merupakan jaringan seni yang memuat kabar terkini dunia seni di Bali, termasuk dunia seni teater, tari, kesusastraan, lukis, musik dan film. Dukung dengan mengirimkan berita seputar seni ke email : baliartetalase@yahoo.com BALI ART ETALASE is creatively created as the Art Network for any current news and information of theater show, dance, painting, literature, music and movie event in Bali.Support this network by dropping any news on those circuit, to baliartetalase@yahoo.com
   

<< August 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

Internet Sehat

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed