DISKUSI LOBAKAN, KUMPULAN CERPEN TRAGEDI 1965/66 DI BALI
Salam budaya
Sebagai wujud apresiasi terhadap terbitnya sebuah buku Antologi Cerpen bertajuk 'Lobakan' karya 14 sastrawan yang merefleksikan peristiwa dan dampak sosial dari tragedi kemanusiaan tahun 1965/66 di Bali, Komunitas Sahaja bermaksud mengadakan Peluncuran dan Diskusi Buku tersebut di Denpasar. Adapun kegiatan dijadwalkan pada :
Hari/Tanggal : Minggu, 23 Agustus 2009
Waktu : 18.30 WITA – selesai
Tempat : Gedung Wantilan Taman Budaya
(Art Centre) Jalan Nusa Indah Denpasar
Selain acara bedah buku, akan digelar pula pembacaan cerpen dan pementasan musikalisasi puisi dari teater pelajar di Denpasar serta pemutaran film dokumenter karya Lembaga Kreativitas Kemanusiaan (LKK).
Buku antologi cerita pendek "LOBAKAN" dari 14 pengarang berbagai generasi,laki-laki perempuan,warga Indonesia dan asing, dengan tema "Tragedi Kemanusiaan 1965/66 di Bali."
Lobakan adalah pelita tradisional rakyat Bali sebagai penerang jalan di kegelapan.
Daftar Isi.
Kata PengantarI Gusti Agung Ayu Ratih
Ketika berbicara tentang Bali, orang pada umumnya tidak menghubungkan pulau itu dengan tragedy, apalagi pembantaian. Bali adalah tempat para dewata bersemayam, perempuan melenggang bak bidadari dari pematang sawah terrasering,pantai menjulur laut biru kehijauan, suaka bagi mereka yang penat dan gelisah.Tak banyak yang pernah mendengar bahwa di balik seluruh keindahan dan keunikan Bali menyimpan sejarah kelam tentang pemberantasan orang-orang yang dianggap anggota atau simpatisan PKI di penghujung 1965.....
1. Pemburu Buaya/ Dyah Merta
.ia seperti melihat ribuan kunang-kunang terbang ke angkasa beserta pekikan dan debam tubuh dijatuhkan ke sungai. Tak berapa lama tubuh-tubuh itu mulai mengalir di sungai...
2. Silsilah Merah / Fati Soewandi
Merelakannya.?Tidak, aku tidak rela. Aku tidak sanggup! Itu berarti aku harus menghapus semua kenangan dan ingatanPadahal hanya kenangan dan ingatan itu yang aku punya untuk melewatkan episode kelam dalam hidupku kini.
3. Bantiran / Gde Aryantha Soethama
Duapuluh tahun kemudian,desa Jampi ramai oleh keluarga orang-orang yang dibantai. Mereka mencari tulang belulang untuk diaben Sesajen diletakkandi tengah sawah yang sebulan lalu panen kedele
4. Kakek Perak /Happy Salma
"Kakek Perak, aku sayang Kakek. Aku bangga menjadi cucumu!" Kakek Perak yang berhati lapang, yang telah memaafkan masa lalunya, dan telah berdamai dengan hal-hal yang tak terduga di dalam hidupnya ini.....
5. Laki laki Tuayang Ingin Mati/ Kadek Sonia Piscayanti
6. Mangku Mencari Doa di Daerah Jauh / Martin Aleida
Begitulah, suatu pagi, ayah Mangku diseret ke tepi lubang, tengkuknya dihantam linggis, dan bersama jasad petani senasib, dia ditimbuni di lubang besar iitu, tanpa doa, konon pula airmata.
7. Bocah di Balik Pintu / May Swan
"Tidak, aku tidak akan kembali ke Bali, apa pun alasannya.."Sebuah adegan menjelma di benaknya, kepala manusia lepas dari badan, ketika ditatap, ternyata itu bukan wajah ayahnya. Itu wajahnya sendiri....
8. Cerita Galuh dan Wayan/ Ni Komang Ariani
Sudah lama Galuh mendengar suara-suara yang tidak ia ketahui sembernya. Suara-suara itu terdengar begitu lirih, namun Galuh yakin suara-suara itu sungguh ada..
9. Pidato / Putu Fajar Arcana
"Bapak-Bapak salah tangkap" Mulut saya lalu seperti terkunci. Saya tidak mampu mengatakan hal lain...
10 Menjelang Tidur Kupadamkan Lampu ./ Putu Fajar Arcana,
Di bulan Desember, hujan hampir setiap hari mengguyur kota. Pada malam yang pekat, aku diciduk, tepatnya digiring ke sebuah gudang peninggalan Belanda..
11. Seonggok Daging Beku / Putu FajarArcana,
Aku membaca peristiwa itu dalam sebuah catatan tulisan tangan yang dibuat Ayah pada masa-masa akhirnya di penjara.Sayangnya dalam catatan itu sama sekali tidak dituliskan mengapa Ayah sampai dijebloskan ke dalam penjara.
12. Made Jepun/ Putu Oka Sukanta
"Kemana kakakmu?". "Kan sudah di Balaibanjar". "Bapakmu?". "Juga sudah diBalaibanjar". "Ibumu?". "Mengantar makanan ke Balaibanjar." . "Kamu juga seharusnya ditahan"., kata lelaki itu dengan tegas mengejutkan Made Jepun."Kamu kan Gerwani."
13. IaMenangis di Depan Televisi/ Putu Oka Sukanta
"Ya. Semua itu keponakan saya. Di PNI banyak keponakan, di PKI juga banyak keponakan. Mereka bergiliran minta tolong kepada saya, membuat tiang bendera,mengangkut barang-barang waktu pindah rumah. Waktu PKI bikin keramaian saya jadi keamanan. Waktu PNI membuat drama saya juga jadi keamanan."..Maka sejak hari itu ia diberi tugas mengangkut mayat-mayat bergeletakan di sebelah timur Taman Pahlawan untuk dikuburkan..
14., Kerbau Bertanduk Emas /Putu Oka Sukanta
Setelah upacara selesai, I Plutut menghampiri tamu yang menyaksikan upacara tersebut. Merinding bulu romanya karena orang-orang yang disebut sebagai algojo oleh iparnya ternyata hadir.
15. Warisan/ Putu Satria Kusuma
"Tidak ayah. Aku tidak mau bersembunyi lagi. Biarlah mereka menangkapku, yang penting aku bisa melepas rinduku menggendong Kadek" bantah Wayan Guru.
16., Dadong/ Sunaryono Basuki KS
Dalam doanya ia selalu berterimakasih kepada Hyang Widhi sebab telah diberi-Nya hidup. Dia juga memintakan maaf orang-orang yang telah membunuh keluarganya.
17..,Nyanyian yang Melintasi Pesisir sampai ke Bukit/ Sunaryono Basuki KS
Sekarang pasanglah telinga baik-baik. Tidakkah kau dengar suara nyanyian itu? Melengking nyaring bagai suara angin, mendayu-dayu bagai suara gesekan biola, kadang meratap bagai dua batang kayu yang bergesekan karena angin. Tidakkah kau dengar suara ratapan di anatara suara nyaring itu?
18. Pedang Samurai di Bawah Tempat Tidur/ Sunaryono Basuki KS,
Dan air di pesisir bercampur darah. Beberapa orang dengan pasrah berlutut di pasir pantai dan menyerahkan lehernya. Ada yang jatuh ke air namun belum terbang nyawanya..
19 Jejaring Sreening / Suprijadi Tomodihardjo
"Boarding ke mana kamu?". "Pulang dong. Ke Jerman! Pakai Singapore Airline."
Aneh rasanya, pulang kok ke Jerman, tidak ke Bali. Tapi kami mengerti kesulitan Wayan.
20.. Menanti Tantri/ Suprijadi Tomodihardjo,
"Berjanjilah datang lagi bersama Rai. Bongkar dan bakar seluruh jasadku. Kau tahu, akar-akar pepohonan di sekitar sini telah membelit tulang-belulangku." Suara itu sudah seribu hari menyelinap di relung hati Tantri, dan baru sekarang
perempuan itu menjawab:.....
21.. Mengapa Cinta/ T.Iskandar A.S
Sekarang, Lelaki lalu balik bertanya, "Mangapa kau mencintaiku?"
"Kau masih tampan dalam usiamu yang menua. Kau baik. Kau tahan disiksa militer, tidak membawa-bawa orang lain. Terlebih-lebih kau tidak terlihat ingin memorot hartaku.."
22 Tumbang/T.Iskandar A.S,
Ketika ia hendak lari melalui dinding yang rubuh, beberapa tentera melihat sebuah sosok setengah telanjang hendak melarikan diri. "Tembak! Tembak!" teriak seseorang. Seorang serdadu mengangkat senjatanya, dan satu semburan peluru merubuhkan tubuhnya yang molek. "Oh, Sang Hyang Widhi," Ia kemudian tergolek kaku dalam kubangan merah kesumba darahnya sendiri.
MOCH SATRIO WELANG ON A NEW MOVIE PROJECT, MALIN KUNDANG
Moch Satrio Welang is set to be on the cast for the newest movie
project by Indonesia Music Maestro, Bambang Pranoto. The Movie itself
will be in the form of animation or cartoon, dedicated for all
Indonesian children in order to be familiar of the original Indonesian
Stories. Moch Satrio Welang plays the main character of Malin Kundang,
the most famous story of West Sumatra. He is not alone to give the
voice, there will be other actors and actresses appears on the movie,
including Hendra Utay, Warih Wisatsana, Made Purnamasari, Putu Rastiti,
Ketut Sudiani, Frischa Aswarini, Devi, Irfan Ferdiyanto, Wina, and Anom
for the cast list
Malin Kundang : Moch Satrio Welang Ayam Jago : Hendra Utay Ibu Malin : Made Purnamasari Udin : Irfan Ferdiyanto Tikus Got : Devi Juragan Baljun : Warih Wisatsana Kepala Perompak : Wina Intan Kencana : Putu Rastiti Awak Kapal : Ketut Sudiani Kuli Pelabuhan : Anom
Director : Bambang Pranoto Asst. Director : Hendra Utay Script Writer : Frischa Aswarini
The
movie will be in the process in Jogjakarta and will be published soon,
stay tune, Keep supporting the original Indonesia Stories as one of the
Indonesian Heritage. Thank You
PENYAIR DAN SENIMAN BALI MENGENANG KARYA-KARYA WS RENDRA
BERBEDA dengan peringatan 17 Agustus sebelum-sebelumnya dengan sejumlah lomba, tahun ini di Sector Bar - Restaurant-Lounge & Event House Sanur Bali justru digelar parade puisi mengenang WS Rendra, Senin (17/8).
Acara yang bertema Rendra : Ziarah Sejarah Kita ini diadakan oleh penyair, perupa, pemerhati seni dan wartawan Bali diantaranya Warih, Tan Lioe Ie, Komunitas Sahaja, Bali Mangsi, Mercya Evers, Grace Jeanie, Ema Sukarelawanto, Hartanto, Maha Art Gallery serta sejumlah seniman lainnya.
Sejumlah sajak karya maestro almarhum WS Rendra dibawakan mulai karya masterpiecenya Blues untuk Bonnie yang dibawakan dengan indah oleh Tan Lioe Ie, disusul Sajak seorang tua untuk istrinya yang dibacakan berdua oleh komunitas Sahaja, Natya penyair cilik kelas 2 SMP membawakan sajak Matahari hingga pamflet-pamfletnya seperti potret pembangunan dalam puisi dibawakan secara bergantian usai dibuka oleh performance art oleh Sura dan prolog yang dibawakan Warih Wisatsana. Puncaknya diputar video dokumentasi Rendra, potongan-potongan uneg-uneg Rendra dan pementasannya kemudian ditutup oleh lagu Indonesia pusaka uyang dinyanyikan secara bersam-sama.
Di pertengahan lagu, Grace Jeanie membacakan sebuah SMS dari Ken Zuraida yang saat itu dikirimkan melalui penyair Hartanto dan ditutup dengan sajak terakhir Rendra yang belum sempat diberi judul saat di RS Mitra Keluarga diidirngi denting biola Natya.
Acara yang digelar secara sederhana ini ternyata juga mendapat respon yang luar biasa dari sejumlah seniman dan penyair muda, spontanitas pun terus mengalir diantaranya Putu Eddy yang akan merespon Rendra dalam bentuk instalasi kepala. Moch Satrio Welang yang membawakan sajak 'Doa Orang Lapar' tampil mengejutkan dengan mengeksplorasi puisi tersebut dengan pembacaan puisi ditengah-tengah kolam, menambah kesan dramatik. Juga tampil membaca puisi yakni Rosalina Norita, Yenli Wijaya, Hartanto, Arta Teater Bastra Samarinda, atraksi pantomim dari Tim Ilustrasi Ponorogo, musikalisasi puisi dari Syech Brother.
"Saya sangat terharu ternyata respon kawan-kawan luar biasa, Bermula dari kegelisahan kami, kami shock dengan meninggalnya sang Burung Merak. Kemudian saya saling kontak dengan Mas Warih yang saat itu sedang menghadiri pemakaman Rendra. Ternyata kegelisahan serupa juga dialami oleh kawan-kawan dan kami sepakat mempertemukan kegelisahan itu dalam bentuk acara ini," ujar Grace Jeanie, Public Relations Manager Sector.
Menurut Jeanie, acara ini dipersiapkan sangat sederhana karena persiapan sangat singkat kurang dari 6 hari. Disinggung mengenai pemilihan waktu, menurut Jeanie karena kawan-kawan melihat tanggal 17 Agustus adalah momen yang tepat sekaligus sebagai refleksi 64 tahun peringatan kemerdekaan RI. Rencananya, imbuh Sudiani dari komunitas Sahaja, awal November saat peringatan 100 hari WS rendra akan kembali digelar event bersama. (*)
( Grace Jeanie)
Rendra : Mempertimbangkan Kita
Mempertimbangkan peran dan kehadiran Rendra, pada dasarnya bukan hanya mempertimbangkan dan merenungkan sikap kritis sang penyair pada tradisi, melainkan, lebih daripada itu, adalah sebuah upaya untuk membaca ulang ke-Indonesiaan kita secara lebih jernih. Sebagai pujangga, Rendra tidak hanya menciptakan puisi-puisi yang indah, dengan bahasa-bahasa yang plastis, imajinatif, serta sugestif, tetapi dari tangannya mengalir pula karya-karya yang penuh dengan kepedulian sosial serta semangat untuk menegakkan keadilan. Bahkan lakon-lakon dramanya penuh dengan gugatan dan pembelaan terhadap kaum yang terpinggirkan. Pendek kata, sang Burung Merak ini seorang budayawan, seorang intelektual yang sungguh-sungguh "Berumah di atas Angin", yang senantiasa tanggap ing sasmita dan selalu peka akan suara kalbu rakyat bangsanya.
Pablo Neruda, seorang penyair pemenang Nobel asal Chili, begitu terpesona oleh kemampuan artistik Rendra di atas panggung, lalu memberi julukan Si Burung Merak. Sebutan itu, menunjukkan dengan jelas betapa pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 adalah seorang seniman yang paripurna, yang tidak hanya kuasa mencipta kata-kata nan kontemplatif yang menakjubkan serta penuh renungan akan hidup, akan tetapi juga kuasa menyihir publik pemirsanya melalui olah teaterikalnya yang orisinal, dengan muatan-muatan pesannya yang senantiasa konstektual. Dengan demikian bolehlah dikata bahwa Rendra adalah sebagian cermin dari sejarah ke-Indonesiaan kita. Membaca Rendra, merenungkan keberadaannya pada hakekatnya adalah sebuah ziarah sejarah Tentang Indonesia kita. (Warih Wisatsana)
YAMAHA WAJA MOTOR GELAR LOMBA BACA PUISI KEMERDEKAAN TINGKAT SMA SEBALI
Dalam upaya mendukung gerakan gemar menulis dan membaca karya sastra, Yamaha Waja Motor menggelar Lomba Baca Puisi memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64, Adapun lomba akan dilaksanakan pada
Tanggal :16 Agustus 2009 Pukul : 09.00 pagi Tempat : Yamaha Jl. Diponegoro Denpasar
Daftarkan diri anda sekarang juga sampai batas waktu besok pelaksanaan lomba pukul sembilan pagi, Adapun syarat dan ketentuan berlaku sebagai berikut : 1. Lomba ini diperuntukan pelajar SMA dan sederajat. 2. Peserta membacakan satu puisi ciptaan sendiri bertema kemerdekaan 3. Tidak dipungut biaya apapun / GRATIS 4. Pendaftaran silahkan menghubungi Panitia, Yonas Yamaha ( 081 8055 3952) atau (081 916 384 162) 5. Pendaftaran dapat dilakukan sekarang juga, sampai besok 16 Agustus ( Jam 8 - 9 pagi)
Dapatkan kesempatan memperoleh hadiah - hadiah sebagai berikut 1. Uang Tunai 2. Trophy 3. Hadiah Hiburan
Juri : Moch Satrio Welang
Demikianlah undangan ini mohon bantuan publikasi apabila mengenal rekan atau saudara anda agar dapat mengikuti acara tersebut diatas
Ubud Writers & Readers Festival 2009 (UWRF 2009)
akan berlangsung 7-11 Oktober di ibu kota
kebudayaan Bali; Ubud, dengan menampilkantema Suka-Duka: Compassion and Solidarity
pada sebuah panggung dunia yang diramaikan penulis terkemuka dan pencinta
kesusastraan.
Suka-Duka merupakan kebijakan
komunal kuno yang selama berabad-abad telah menjadi salah satu soko guru
masyarakat serta lembaga tradisional Bali.
Prinsip Suka-Duka telah membimbing anggota lembaga kemasyarakatan tradisional,
seperti banjar dan desa pekraman, untuk berlaku sebagai satu entitas tunggal
dalam menghadapi kesulitan hidup maupun merayakan karunia dunia. Penderitaan
salah seorang anggota lembaga akan ditanggung oleh semua anggota lainnya
sedangkan kegembiraan salah satu anggota akan dirasakan pula oleh
anggota-anggota lainnya.
Tema ini mencerminkan komitmen
festival untuk menjadikan pertemuan kesusastraan ini sebuah momen yang mampu
memberikan inpirasi, melalui mana para penulis dan pembaca dari berbagai
belahan dunia dapat mencapai kesesuaian paham dan membangun landasan bersama
untuk mengingatkan masyarakat dunia tentang perlunya berpikir dan bertindak
sebagai sebuah entitas tunggal yang penuh welas-asih, terutama pada titik waktu
saat ini yang dicederai oleh kekerasan dan kegelisahan.
Tema ini juga sebuah bukti nyata
dari niat teguh festival untuk memperkenalkan kebijakan-kebijakan kuno Bali ke panggung dunia. Festival-festival sebelumnya
telah mengangkat ajaran-ajaran paling esensial Bali
seperti Tri Hita Karana dan Desa-Kala-Patra.
UWRF 2009 akan dihadiri oleh 90
penulis dari berbagai negara di belahan dunia, termasuk pemenang Nobel Sastra,
Wole Soyinka (Nobel Sastra 1986) Wole Soyinka adalah warga Afrika pertama yang
memenangkan Nobel Sastra.
Dari Indonesia sendiri akan tampil
sejumlah sastrawan terkemuka seperti NH Dini serta Seno Gumira Adjidarma. Serta
15 penulis muda Indonesia yaitu : Nurhady Sirimorok, Aan Mansyur ( Makassar),
Romi Zarman, Esha tegar Putra ( Padang) inggit Putria Marga ( Lampung), Anton
Kurnia, Dian Hartati ( Bandung), Ernest JK Wen,Yonathan Rahardjo,Tjahjono
Widijanto, ( Jawa Timur) Ahmad Muchlis Imran ( Jogja), Doel CP Allisah ( Aceh),
Zeffry Alkatiri, Nelden Djakababa, Clara Ng ( Jakarta). Juga akan hadir 2
penulis muda yang akan di sertakan dalam program residensi UWRF A Muttaqin dan
Mona Sylviana yang akan dipasangkan dengan 2 editor Warih Wisatsana dan AS
Laksana
Para
penulis ini akan berpartisipasi pada beragam program, mulai dari diskusi panel,
santap siang kesusastraan, pemanggungan puisi, pementasan teater hingga
peluncuran buku dengan Moch Satrio Welang yang dijadwalkan sebagai Host beberapa program.
Festival juga menyelenggarakan
serangkaian program komunitas serta workshop anak-anak. Peserta kedua program
ini tidak dipungut biaya apapun.
Festival
kesusastraan tahunan ini pertama kali dilangsungkan pada 2004 and semenjak itu
telah menjadi perhelatan kesusastraan terbesar di negeri ini serta salah satu
perhelatan budaya yang menjadi ciri khas Bali. Rata-rata, festival dihadiri 100
penulis dari sepuluh negara.
Dari
tahun ke tahun, jumlah mereka yang mengunjungi festival terus bertambah. UWRF
2008, dikunjungi oleh lebih 21.000 orang, peningkatan 31 persen dari UWRF 2007.
Tujuh
puluh lima persen dari pengunjung festival adalah orang asing, sebuah bukti nyata
betapa festival ini telah memainkan peranan penting dalam memperkuat industri
pariwisata Bali.
Selain
itu, festival ini juga memperoleh perhatian media massa yang semakin besar. UWRF 2008 diliput
oleh wartawan dari 35 organisasi media nasional dan internasional.
Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan media massa tentang meninggalnya Mbah
Surip yang mendadak dan kesibukan polisi yang gencar menumpas terorisme. Pada
Kamis malam Bangsa Indonesia dikejutkan kembali dengan meninggalnya sastrawan
besar yang pernah dimiliki bangsa ini, Willibrodus Surendra Rendra.
Selama ini Rendra dikenal sebagai seorang dramawan yang membawa angin pembaruan
di ranah seni pertunjukan. Pada era 60-an dirinya menawarkan suatu pementasan
minikata-nya.
Rendra bukan saja seorang dramawan yang cerdas, konsisten, dan penuh dedikasi,
"si Burung Merak" ini juga dikenal sebagai seorang penyair dengan
karya-karyanya yang cergas menggambarkan realitas sosial kehidupan manusia.
Puisi-puisinya yang cenderung vulgar telah mengantarkan dirinya dicap sebagai
pengganggu stabilitas kekuasaan rezim penguasa. Tidak mengherankan jika dirinya
kerap kali dicekap ketika hendak membacakan puisi atau mengadakan pementasan,
bahkan beberapa kali penjara menjadi ganjaran dari aktivitas keseniannya. Namun
pencekalan dan penjara tidak menggoyahkan keyakinan dirinya.
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
Untuk menghormati jasa-jasanya yang tiada terkira, sekaligus memperingati tujuh
hari meninggalnya Rendra maka Taman Budaya Bali bekerjasama dengan Kelompok
108, Arti Foundation, beserta seniman-seniman Bali akan menyelenggarakan
"Semua Untuk Rendra".
Semua Untuk Rendra akan digelar:
Hari/Tanggal : Rabu, 12 Agustus 2009
Pukul : 19.00 - 22.00 wita
Tempat : Halaman Gedung Kriya Taman Budaya-Art Center, Denpasar
Acara ini akan diisi dengan pembacaan puisi-puisi Rendra oleh para penyair Bali
diantaranya Muda Wijaya, Pranita Dewi, Putu Vivi Lestari, Tan Lio Iie, Moch
Satrio Welang, Purnama, Ayu Winastri, dan penyair lainnya. Selain itu juga akan
ada pementasan lagu-lagu Kantata Takwa oleh Syech Brothers, Orasi Budaya, serta
dramatic reading oleh Dadi Reza Pujiadi and Dedi Dwiyanto
Susunan Acara: 19.00 - 19.30 Wara wiri
19.30 - 19.35 Opening by MC Giri Ratomo
19.35 - 19.45 1st Music (1 song) Syech Brothers
19.45 - 20.00 Puisi Muda Wijaya
20.00 - 20.05 Puisi Purnamasari
20.00 - 20.05 MC introduce Orasi Budaya
20.05 - 20.10 Orasi Budaya Gentry Amalo
20.10 - 20.20 2nd Music (1 song) Syech Brothers
20.20 - 20.25 Puisi Putu Vivi Lestari
20.25 - 20.30 Puisi Ayu Winastri
20.30 - 20.35 Puisi Hartanto
20.35 - 20.40 Orasi Budaya
20.40 - 20.50 Dramatic reading Dadi Reza Pujiadi
20.50 - 21.00 Puisi Pranita Dewi
21.00 - 21.10 Puisi Tan Lio Le
21.10 - 21.20 Orasi Budaya I Dewa Gede Palguna
21.20 - 21.35 3rd Music (2 songs) Syech Brothers
21.35 - 21.40 Puisi Dedi Dwiyanto
21.40 - 21.45 Puisi Moch Satrio Welang
21.45 - 21.50 Puisi/Music Tentatif
21.50 - 22.00 Puisi/Music Tentatif
22.00 – end Closing by MC
Giri Ratomo
untuk informasi lebih lanjut:
Dedi (08164747737)
Tomo (08164724014)
Forrest Club & Q Film Festival ingin mengundang teman-teman untuk hadir di acara peluncuran buku GAY ARCHIPELAGO pada sore hari ini.
Tom Boellstroff, profesor bidang antropologi University of California, Irvine dan Editor-in-Chief Jurnal Antropologi Amerika, dalam bukunya yang berjudul: GAY ARCHIPELAGO: Seksualitas dan Bangsa di Indonesia, menulis analisanya tentang sejarah homoseksual di Indonesia yang kemudian berpindah pada pembahasan mengenai bagaimana berbagai identitas gay dan lesbian dijalani dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Dari pertanyaan tentang cinta, hasrat, dan romansa, sampai pada tempat-tempat gay dan lesbian bertemu. Tom juga mengeksplorasi peran media masa, Negara, dan pernikahan dalam identitas gay dan lesbian.
Tom akan meluncurkan bukunya dalam versi terjemahan bahasa Indonesia pada:
Hari/Tanggal: Senin, 10 Agustus 2009 Waktu: 17: 30 - 19:30 Tempat: forrest Club di Suicide Glam, Jl. Cok Agung Tresna 118 (depan TVRI) Renon Pembicara: Tom Boellstroff Moderator: Dede Oetomo/John Badalu
GRATIS.
Dan jika tidak berhalangan, sutradara film Never Give Up Never Abandon, Gu Changwei akan hadir dalam pemutaran film hari ke-4 Q Film Festival 2009 ini.
Banda Aceh,
Empat orang seniman Bali tampil memikat di acara “Aceh International
Literary Festival”. Saat mementaskan puisi blues di Pinto Khop,
kelompok penyair dan musisi Bali ini mendapat sambutan meriah dari
penonton yang hadir.
Saat pentas di Pinto Khop (5/8) kemarin, empat seniman Bali yakni Tan
Lioe Ie (penyair senior), serta tiga orang musisi senior dari Bali
Blues Island (BBI) yakni I Putu Indrawan, I Wayan Gede Subawa (Yande),
serta I Nyoman Gariasa (Kabe), membawakan beberapa buah puisi yang
diiringi musik blues.
Pentas seni unik ini tentu saja mendapat sambutan meriah dari penonton
yang hadir, baik pecinta sastra dari dalam maupun luar negeri. Di
panggung pentas, penonton bisa mengapresiasi dua seni sekaligus yakni
puisi yang dibacakan Tan Lioe Ie dan alunan musik blues Putu Indrawan
dan kawan-kawan.
“Kita tak menyangka sambutan penonton sangat antusias seperti ini.
Sebagai wakil Bali kami merasa bangga bisa menampilkan suatu hal yang
relatif baru dan berbeda, dan ini bisa diterima dengan baik oleh
pecinta seni di Aceh. Mudah- mudahan ini bisa membuat perkembangan seni
sastra di Aceh khususnya dan Nusantara umumnya semakin bergairah,” kata
Putu Indrawan.
Empat orang seniman dari Kota Denpasar, Bali, Selasa (4/8) lalu
bertolak ke Tanah Rencong, Nangroe Aceh Darusalam. Mereka tampil pada
“Aceh International Literary Festival” yang merupakan bagian dari Pekan
Kebudayaan Aceh ke-5. (bob)
Sebagai
wujud apresiasi atas upaya pengembangan budaya dan susastra, maka Komunitas
Sahaja bermaksud mengadakan sebuah Diskusi Sastra serta Peluncuran Buku
‘Seri Puisi Jerman V’ karya Hans Magnus Enzensberger, seorang sastrawan
dan penyair tersohor kelahiran Kaufbeuren, Jerman.. Acara ini akan menghadirkan
dua pembicara mumpuni tingkat nasional serta internasional, yakni Agus R.
Sarjono (Indonesia) dan Berthold Damshäuser (Jerman), dengan jadwal sebagai
berikut:
Hari,tanggal :Sabtu,
15 Agustus 2009
tempat : RRI Denpasar
Jalan Hayam Wuruk 70 Denpasar
waktu : Pukul 17.00 –
21.00 WITA
Sehubungan
dengan itu, kami bermaksud mengundang Bapak/Ibu untuk menghadiri acara yang
penuh makna ini.
Sebagai pertimbangan, Hans Magnus
Enzensberger dianggap sebagai salah satu penulis berbahasa Jerman yang paling
berpengaruh di dalam sejarah sastra setelah Perang Dunia II. Karya-karya
briliannya dipandang penting dalam debat politik dan budaya di Jerman.
Sedangkan Berthold Damshäuser, lahir 1957 di Wanne-Eickel, adalah seorang
pengajar Bahasa Indonesia dan kesusastraan di Seminar untuk bahasa-bahasa
Oriental Universitas Bonn, Institut untuk ilmu Oriental dan Asia sejak tahun
1986. Beliau juga salah seorang pendiri Komisi Jerman-Indonesia untuk bahasa
dan kesusastraan. Dan Agus R Sarjono adalah sastrawan dan peneliti tamu di
International Institute for Asian Studies (IIAS), Universitas Leiden (2001) dan
sastrawan tamu Heinrich-Böll-Haus, Langenbroich, Jerman (2002-2003). Pernah
menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta bagian program. Meluncurkan buku puisinya
Frische Knochen aus Banjuwangi (terjemahan Berthold Damshäuser dan Inge Dumpel)
di Berlin awal 2003. Sejak beberapa tahun terlibat dalam penerbitan ”Seri Puisi
Jerman“ bersama Berthold Damshäuser.
Demikian
surat undangan ini kami sampaikan. Atas perhatian dan perkenan Bapak/Ibu, kami
mengucapkan terima kasih.
Moch Satrio Welang Talks About Literature on Bali Pecha Kucha #2
Moch Satrio Welang is now preparing the material for the presentation of literature in front hundreds of local and expatriate in Pecha Kucha Night at Sanur Village Festival ( Mertasari Beach, Sanur ) on Thursday, August 13, 2009 Start 6.30 PM. The material itself hasn't been published yet but the source says it will talk about literature on how to know, to love and to create it. Since he established Sastra Welang Publisher (Bali Literature Publisher), he thinks that the media to promote the spirit of literature need to be added and Pecha Kucha is one of them as the awesome moment to share our creative ideas in front of the public.
Based on the Bali Creative Community as the organizer, the Final Participants list has been launched on website:
10. Moch. Satrio Welang [ Bali, topic: Literature, The Power of Words ]
11. Gung WS & Degenk [ Bali, topic: TBA ]
12. Rebekah E. Moore [ USA, title: Indie Music in Bali: A Status Report ]
13. Bali Garlic Club [ Bali, title: Little Thing That Makes the Different ]
14. Bali Adventure Tours [ Bali, title: The Birth of the Elephant ]
15. Brent Balalas [ USA, topic: TBA ]
16. Made Bayak Muliana [ Bali, topic: TBA ]
17. Dunie & Jonsky [ Bali, topic: Drum-n-Bass ]
18. Rosalina Norita [ Bali, title: Women & Nurturing ]
19. Barong Reptilianz [ Bali, title: Me & My Reptile ]
20. Dharma Putra [ Bali, titel: Our Zero Emission ]
PECHA KUCHA is the international event which originated in Japan and has spread rapidly throughout the world is coming to Indonesia. If you haven't heard, Pecha Kucha is the place for young designers to meet, network, and show their work in public. Pecha Kucha (which is Japanese for the sound of conversation) has tapped into a demand for a forum in which creative work can be easily and informally shown, without having to rent a gallery or chat up a magazine editor! The International Rule for Pecha Kucha, People creating their creative ideas in 20 frames, each 20 second, total 6 minutes!
For all participants, please:
(English version)
1. Prepare 20 frames or images or presentation layouts in jpg format with size: 1034 x 768 pixel
2. If your format is movie files, the minimum resolution or the size has to be 640 x 480 pixels, and the duration not longer than 7 minutes
3. The maximum size of the file in total is not bigger than 700 MB
(Versi Indonesia)
1. Siapkan 20 frame atau image atau layout presentasi dalam format jpg dengan ukuran 1024 X 768 pixel 2. Jika formatnya movie files resolusi minimum atau ukurannya harus 640 X 480 pixel dan durasinya tidak lebih dari 7 menit. 3. Ukuran file maximum baik berupa gambar maupun movie tidak lebih dari 700 MB
Your presentation has to be ready by Monday next week, August 10, 2009. Please bring it to Suicide Glam shop in jalan Cok Agung Tresna 118 (opposite TVRI Denpasar). If you still have any question, write your e-mail to : info@suicideglam.net and c.c. to Ridwan Rudianto rridwanr@yahoo.com or call RUDOLF DETHU
BALI ART ETALASE merupakan jaringan seni yang memuat kabar terkini dunia seni di Bali, termasuk dunia seni teater, tari, kesusastraan, lukis, musik dan film. Dukung dengan mengirimkan berita seputar seni ke email : baliartetalase@yahoo.com
BALI ART ETALASE is creatively created as the Art Network for any current news and information of theater show, dance, painting, literature, music and movie event in Bali.Support this network by dropping any news on those circuit, to baliartetalase@yahoo.com